Thursday, June 19, 2014

Injeksi Papaverin HCl dalam Vial 5 ml

I.                   JUDUL PRAKTIKUM
Injeksi Papaverin HCl dalam Vial 5 ml

II.                PENDAHULUAN
Steril adalah suatu keadaan bebas dari kontaminasi mikroorganisme. (Diktat Penuntun Praktikum Mikrobiologi II)
Produk steril adalah sediaan terapetis dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya ini termasuk sediaan parenteral, mata, dan irigasi. (Lachman Edisi III hal.1292)
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau didispersikan dahulu sebelum digunakan yang harus disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Injeksi di racik dengan melarutkan, mengemulsikan atau mensuspensikan sejumlah obat kedalam dosis tunggal atau wadah dosis tunggal. (Formulasi Steril  hal.37)
Papaverin HCl dapat dibuat dalam sediaan injeksi vial subkutan maupun slow intravena karena papaverin HCl merupakan zat aktif yang berkhasiat untuk mengobati cerebral dan peripheral iskemia yang berhubungan dengan kejang arteri, dan iskemia miokardia karena aritmia. ( DI 88 hal.963)
Zat antibakteri dalam konsentrasi bakteriostatik harus dimasukkan dalam formulasi produk yang dikemas dalam vial dosis ganda, dan seringkali dimasukkan dalam formulasi yang akan disterilkan dengan proses marginal atau dibuat secara aseptis. (Lachman Edisi III hal.1300)
Syarat sediaan injeksi :
1.             Aman, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis.
2.             Harus jernih, berarti tidak ada partikel padat kecuali yang berbetuk suspensi.
3.             Tidak berwarna, kecuali bila obatnya memang berwarna.
4.             Sedapat mungkin isohidris, dimaksudkan agar bila diinjeksikan kebadan tidak tersa sakit dan penyerapan obat optimal. Isohidris artinya pH larutan injeksi sama dengan darah dan cairan tubuh lain yaitu 7,4.
5.             Sedapat mungkin isotonis, dibuat isotonis agar tidak terasa sakit bila disuntikkan. Isotonis adalah mempunyai tekanan osmose yang sama dengan darah dan cairan tubuh lain.
Wadah yang digunakan untuk  produk steril salah satunya adalah vial. Vial adalah wadah gelas, umumnya digunakan untuk dosis ganda dengan kapasitas 0,5 – 100 ml. Isi dapat diambil sebagian dan sisanya harus steril, oleh karena itu pada formulanya perlu ditambahkan pengawet. Syarat dari sediaan vial antara lain, steril karena sebagai sediaan injeksi parenteral, jernih, tidak harus isotonis karena vial memiliki volume kecil yang tidak diberikan secara terus menerus seperti infus. 
Larutan injeksi Papaverin HCl yang dibuat dalam vial intravena membutuhkan zat-zat tambahan seperti:
1.             Aqua pro injection sebagai pelarut dan merupakan cairan jernih bebas pirogen (senyawa organik yang menyebabkan demam dan berasal dari pencemaran mikroba). (Lachman Edisi III hal.1295)
2.             Digunakan Benzetonium klorida sebagai pengawet (anti mikroba) karena sediaan injeksi vial digunakan untuk dosis ganda, dimana pemakaiannya dapat diambil sebagian dan sisanya harus tetap steril dari adanya pencemaran mikroba. (Lachman Edisi III hal.1300)

IV.             FARMAKOLOGI
Papaverin bekerja sebagai antispasmodik pada kelainan fungsi saluran cerna yang secara langsung bekerja sebagai relaksan terhadap otot polos dengan cara menghambat fosfodiesterase, zat ini berkhasiat untuk pengobatan kolik ginjal, kolik kandung empedu, keadaan yang diperlukan untuk relaksasi otot polos, embolik perifer, dan mesentrik. (Handbook on Injecteble Drugs 11th Edition hal.1012)

Quinin dihidroklorida aktif melawan schizontosid Plasmodium falciparum namun tidak terhadap bentuk gametosit dewasa P.falciparum. Mekanisme kerjanya tidak terlalu jelas diketahui namun diperkirakan berhubungan dengan fungsi lisosom atau sintesis asam nukleat dari parasit malaria. Quinin dihidroklorida biasanya digunakan sebagai pencegahan malaria namun dapat juga untuk menyembuhkan infeki protozoal dan kram kaki pada malam hari.

V.                FARMAKODINAMIK
Papaverin dapat merelaksasi otot polos secara langsung yang dapat menghambat fosfodiesterase. Efek samping gangguan gastro intestinal, muka memerah, pusing, mengantuk, ruam kulit, berkeringat, hipotensi. Untuk dosis yang berlebih akan menyebabkan aritmia jantung. (Martindale The Extra Pharmacopeia. 28th Edition hal.2192)

VI.             FARMAKOKINETIK
Papaverin dimetabolisme di dalam hati dan dieksresikan melalui urin dalam bentuk metabolit konjugasi glukoronida fenolik. (Martindale The Extra Pharmacopeia. 28th Edition hal.2192)

VII.          FORMULA
Tiap vial mengandung:
Papaverin HCl                         30 mg
Benzetonium klorida               0,01 %
Aqua p.i.                      ad        5 ml

VIII.       PERHITUNGAN
            Rumus = {(n.v) + (30%.(n.v))}ml                            Keterangan :
                                                                                 n = jumlah vial yang akan dibuat
                                                                                 v = vol. Injeksi tiap vial (ml)

Volume total 5 vial                  = {(n.v) + (30%.(n.v))}ml
                                                            = {(7 .5,3) + (30%.(7.5,3)}ml
                                                            = 48,23 ml
                                   
Total Papaverin HCl                = (30mg/5,3ml) x 48,23ml
= 273 mg
                                       
Total Benzetonium klorida      =  0,01% x 48,23mL
4,823x10-3 g
=  4,823 mg

Pengenceran benzetonium klorida = (4,823mg/10mg) x 5ml = 2,4ml

Tabel  Penimbangan
Bahan
Penimbangan teoritis (mg)
Penimbangan di laboratorium (mg)
Papaverin HCl
273
273,0
Benzetonium klorida
10
10,0


IX.             ALAT DAN CARA SERILISASI
NO
Alat yang digunakan
Cara sterilisasi
Paraf asisten
w.mulai
Paraf
w.akhir
Paraf
1.
Beaker glass,
Erlenmeyer,
Corong glass,
Vial injeksi,
Pipet tetes.
Oven 150oC selama 1 jam (FI ed. III hal 18)
11.29

12.29

2.
Gelas ukur,
Kertas saring.
Autoklaf 121oC selama 15 menit (FI ed. III hal 18)
11.29

11.59

3.
Batang pengaduk, spatula,
Pinset,
Kaca arloji,
Penjepit besi.
Direndam alkohol selama 1 jam

11.05

12.05

4.
Karet tutup vial
Karet tutup pipet tetes
Direbus  dalam air suling 30 menit
11.25

11.55

5.
Aqua p.i.
Didihkan 30 menit (FI ed. III hal 14)
11.36

12.06

6.
Sterilisasi sediaan vial (sterilisasi akhir)
Autoklaf 121°C, 15 menit
13.30

13.45


X.                CARA KERJA
1.      Alat–alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan.
2.      Kalibrasi vial 5 ml dan beaker glass 37,1 ml.
3.      Alat-alat dan wadah yang akan digunakan disterilkan.
4.      Aqua pro injeksi dibuat dengan cara mendidihkan aqua selama 30 menit, lalu didinginkan. 
5.      Bahan-bahan yang akan digunakan ditimbang.
6.      Dibuat pengenceran benzetonium klorida dengan cara: sejumlah 10 mg benzetonium klorida ditimbang, kemudian diencerkan dengan aqua pro injeksi hingga 5 ml.
7.      Papaverin HCl dilarutkan dengan sebagian aqua pro injeksi didalam beaker glass.
8.      Sebanyak 2,4 ml benzetonium klorida yang telah diencerkan dimasukkan ke dalam larutan papaverin HCl, kemudian diaduk homogen.
9.      Aqua pro injeksi ditambahkan hingga sebelum tanda kalibrasi.
10.  Dilakukan pemeriksaan pH, hingga pH memenuhi antara 3-4.
11.  Aqua pro injeksi ditambahkan ad tanda.
12.  Larutan obat dimasukan ke dalam vial sampai tanda kalibrasi.
13.  Ditutup dengan karet penutup, lakukan sterilisasi akhir dengan otoklaf dengan suhu 121°C selama 15 menit.
14.  Dilakukan evaluasi kejernihan, pH, dan keseragaman volume.
15.  Diberi etiket, brosur, lalu dikemas dan diserahkan.

XI.             HASIL EVALUASI
Jenis Evaluasi
Hasil Evaluasi
Uji Fisika
-       Uji Kejernihan
Jernih
-       Uji Keseragaman Volume
Seragam
Uji Kimia
-       Uji pH
4,5
Uji Biologi
-       Uji Sterilitas
-        Uji Sterilitas (FI ed. IV hal 861)
Menggunakan teknik penyaringan membran :
Bersihkan permukaan luar botol, tutup botol dengan bahan dekontaminasi yang sesuai, ambil isi secara aseptik.
Pindahkan secara aseptik seluruh isi tidak kurang dari 10 wadah melalui tiap penyaring dari 2 rakitan penyaring. Lewatkan segera tiap spesimen melalui penyaring dengan bantuan pompa vakum/tekanan.
Secara aseptik, pindahkan membran dari alat pemegang, potong menjadi setengah bagian (jika hanya menggunakan satu). Celupkan membran atau setengah bagian membran ke dalam 100 ml media inkubasi selama tidak kurang dari 7 hari.
Lakukan penafsiran hasil uji sterilitas.

XII.          PEMBAHASAN
1.      Sebelum membuat sediaan Papaverin HCl dalam vial, seluruh alat yang digunakan disterilkan terlebih dahulu untuk membebaskan alat-alat dari kontaminasi mikroorganisme.
2.      Pelarut yang digunakan yaitu aqua pro injeksi bukan aquadest biasa karena air yang digunakan dalam larutan parenteral dan irigasi harus bebas dari pirogen.
3.      Dari hasil evaluasi kejernihan, didapatkan larutan yang jernih hasil ini didapat karena zat aktif (Papaverin HCl) dapat larut dalam air sehingga tidak menimbulkan kekeruhan pada sediaan yang telah jadi.
4.       Evaluasi keseragaman volume memberikan hasil semua sediaan memiliki volume yang seragam, keseragaman volume ini dapat tercapai karena sebelum larutan dimasukkan ke dalam vial, terlebih dahulu dilakukan kalibrasi pada vial.
5.      pH dari sediaan yaitu 4,5 nilai tersebut sedikit berbeda dengan pH dari zat aktif yang digunakan, hal tersebut terjadi karena bahan pengawet yang digunakan (benzetonium klorida) memiliki pH 4,8-5,5 yang mempengaruhi pH larutan.

XIII.       DAFTAR PUSTAKA
1.      Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan; 1979.
2.      Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan; 1995.
3.      Reynolds JEF, Martindale The Extra Pharmacopeia. 28th edition. London: The Pharmaceutical Press; 1982.
4.      Trissels, Lawrence A. Handbook on Injectable Drugs. 11th Edition.
5.      Diktat Penuntun Praktikum Mikrobiologi II. Laboratorium Mikrobiologi. Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. Jakarta; 2014.
6.      Rowe, Raymond C et.al. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Edition. London: Pharmaceutical Press; 2009.
7.      Lachman, Leon. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi III. UI-Press; 1994.

8.      Evory MC, Gerald K. Drug Information. USA: American Society of Health-System Pharmacist; 2003.

No comments:

Post a Comment