I.
JUDUL PRAKTIKUM
Injeksi Papaverin HCl dalam Vial 5 ml
II.
PENDAHULUAN
Steril adalah suatu
keadaan bebas dari kontaminasi mikroorganisme. (Diktat Penuntun Praktikum
Mikrobiologi II)
Produk steril adalah
sediaan terapetis dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme
hidup. Pada prinsipnya ini termasuk sediaan parenteral, mata, dan irigasi.
(Lachman Edisi III hal.1292)
Injeksi adalah
sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau didispersikan dahulu sebelum digunakan yang harus disuntikkan
dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau selaput
lendir. Injeksi di racik dengan melarutkan,
mengemulsikan atau mensuspensikan sejumlah obat kedalam dosis tunggal atau wadah dosis
tunggal. (Formulasi Steril hal.37)
Papaverin HCl dapat
dibuat dalam sediaan injeksi vial subkutan maupun slow intravena karena
papaverin HCl merupakan zat aktif yang berkhasiat untuk mengobati cerebral dan
peripheral iskemia yang berhubungan dengan kejang arteri, dan iskemia miokardia
karena aritmia. ( DI 88 hal.963)
Zat antibakteri
dalam konsentrasi bakteriostatik harus dimasukkan dalam formulasi produk yang
dikemas dalam vial dosis ganda, dan seringkali dimasukkan dalam formulasi yang
akan disterilkan dengan proses marginal atau dibuat secara aseptis. (Lachman
Edisi III hal.1300)
Syarat sediaan injeksi :
1.
Aman, tidak boleh menyebabkan
iritasi jaringan atau efek toksis.
2.
Harus jernih, berarti tidak ada
partikel padat kecuali yang berbetuk suspensi.
3.
Tidak berwarna, kecuali bila
obatnya memang berwarna.
4.
Sedapat mungkin isohidris,
dimaksudkan agar bila diinjeksikan kebadan tidak tersa sakit dan penyerapan
obat optimal. Isohidris artinya pH larutan injeksi sama dengan darah dan cairan
tubuh lain yaitu 7,4.
5.
Sedapat mungkin isotonis,
dibuat isotonis agar tidak terasa sakit bila disuntikkan. Isotonis adalah
mempunyai tekanan osmose yang sama dengan darah dan cairan tubuh lain.
Wadah
yang digunakan untuk produk steril salah
satunya adalah vial. Vial adalah wadah gelas, umumnya digunakan untuk dosis
ganda dengan kapasitas 0,5 – 100 ml. Isi dapat diambil sebagian dan sisanya
harus steril, oleh karena itu pada formulanya perlu ditambahkan pengawet.
Syarat dari sediaan vial antara lain, steril karena sebagai sediaan injeksi
parenteral, jernih, tidak harus isotonis karena vial memiliki volume kecil yang
tidak diberikan secara terus menerus seperti infus.
Larutan injeksi Papaverin HCl yang dibuat dalam vial intravena membutuhkan
zat-zat tambahan seperti:
1.
Aqua pro injection sebagai
pelarut dan merupakan cairan jernih bebas pirogen (senyawa organik yang
menyebabkan demam dan berasal dari pencemaran mikroba). (Lachman Edisi III hal.1295)
2.
Digunakan Benzetonium
klorida sebagai pengawet (anti mikroba) karena sediaan injeksi vial digunakan
untuk dosis ganda, dimana pemakaiannya dapat diambil sebagian dan sisanya harus
tetap steril dari adanya pencemaran mikroba. (Lachman Edisi III hal.1300)
IV.
FARMAKOLOGI
Papaverin bekerja sebagai
antispasmodik pada kelainan fungsi saluran cerna yang secara langsung bekerja
sebagai relaksan terhadap otot polos dengan cara menghambat fosfodiesterase, zat ini berkhasiat untuk pengobatan kolik
ginjal, kolik kandung empedu, keadaan yang diperlukan untuk relaksasi otot
polos, embolik perifer, dan mesentrik. (Handbook on Injecteble Drugs 11th
Edition hal.1012)
Quinin dihidroklorida aktif melawan schizontosid Plasmodium falciparum namun tidak terhadap bentuk gametosit dewasa P.falciparum. Mekanisme kerjanya tidak
terlalu jelas diketahui namun diperkirakan berhubungan dengan fungsi lisosom
atau sintesis asam nukleat dari parasit malaria. Quinin dihidroklorida biasanya
digunakan sebagai pencegahan malaria namun dapat juga untuk menyembuhkan infeki
protozoal dan kram kaki pada malam hari.
V.
FARMAKODINAMIK
Papaverin dapat merelaksasi otot polos secara langsung yang dapat
menghambat fosfodiesterase. Efek samping gangguan
gastro intestinal, muka memerah, pusing, mengantuk, ruam kulit, berkeringat,
hipotensi. Untuk
dosis yang berlebih akan menyebabkan aritmia jantung. (Martindale The Extra
Pharmacopeia. 28th Edition hal.2192)
VI.
FARMAKOKINETIK
Papaverin dimetabolisme di dalam hati dan dieksresikan melalui urin
dalam bentuk metabolit konjugasi glukoronida fenolik. (Martindale
The Extra Pharmacopeia. 28th Edition
hal.2192)
VII.
FORMULA
Tiap vial mengandung:
Papaverin HCl 30 mg
Benzetonium klorida 0,01 %
Aqua p.i. ad 5 ml
VIII.
PERHITUNGAN
PERHITUNGAN
Rumus = {(n.v) + (30%.(n.v))}ml Keterangan :
n = jumlah vial yang akan dibuat
v = vol. Injeksi tiap vial (ml)
Volume total 5 vial = {(n.v) + (30%.(n.v))}ml
= {(7 .5,3) + (30%.(7.5,3)}ml
= 48,23 ml
Total Papaverin HCl = (30mg/5,3ml) x 48,23ml
= 273 mg
Total Benzetonium klorida = 0,01% x 48,23mL
= 4,823x10-3
g
= 4,823 mg
Pengenceran benzetonium klorida = (4,823mg/10mg) x
5ml = 2,4ml
Tabel Penimbangan
|
Bahan
|
Penimbangan teoritis (mg)
|
Penimbangan di laboratorium (mg)
|
|
Papaverin HCl
|
273
|
273,0
|
|
Benzetonium klorida
|
10
|
10,0
|
IX.
ALAT DAN CARA SERILISASI
|
NO
|
Alat yang digunakan
|
Cara sterilisasi
|
Paraf asisten
|
|||
|
w.mulai
|
Paraf
|
w.akhir
|
Paraf
|
|||
|
1.
|
Beaker
glass,
Erlenmeyer,
Corong
glass,
Vial injeksi,
Pipet
tetes.
|
Oven 150oC
selama 1 jam (FI ed. III hal 18)
|
11.29
|
|
12.29
|
|
|
2.
|
Gelas
ukur,
Kertas
saring.
|
Autoklaf 121oC
selama 15 menit (FI ed. III hal 18)
|
11.29
|
|
11.59
|
|
|
3.
|
Batang
pengaduk, spatula,
Pinset,
Kaca
arloji,
Penjepit
besi.
|
Direndam
alkohol selama 1 jam
|
11.05
|
|
12.05
|
|
|
4.
|
Karet tutup vial
Karet
tutup pipet tetes
|
Direbus dalam air suling 30 menit
|
11.25
|
|
11.55
|
|
|
5.
|
Aqua p.i.
|
Didihkan 30 menit (FI ed. III
hal 14)
|
11.36
|
|
12.06
|
|
|
6.
|
Sterilisasi sediaan vial (sterilisasi akhir)
|
Autoklaf 121°C, 15 menit
|
13.30
|
|
13.45
|
|
X.
CARA KERJA
1. Alat–alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan.
2. Kalibrasi vial 5 ml dan beaker glass 37,1 ml.
3. Alat-alat dan wadah yang akan digunakan disterilkan.
4. Aqua pro injeksi dibuat dengan cara mendidihkan aqua selama 30 menit, lalu didinginkan.
5. Bahan-bahan yang akan digunakan
ditimbang.
6. Dibuat pengenceran benzetonium klorida dengan
cara: sejumlah 10 mg benzetonium klorida ditimbang, kemudian diencerkan dengan
aqua pro injeksi hingga 5 ml.
7. Papaverin HCl dilarutkan dengan sebagian aqua pro injeksi didalam beaker glass.
8. Sebanyak 2,4 ml benzetonium klorida yang telah
diencerkan dimasukkan ke dalam larutan papaverin HCl, kemudian diaduk homogen.
9.
Aqua pro injeksi ditambahkan
hingga sebelum tanda kalibrasi.
10.
Dilakukan pemeriksaan pH,
hingga pH memenuhi antara 3-4.
11.
Aqua pro injeksi ditambahkan
ad tanda.
12. Larutan obat dimasukan ke dalam vial sampai tanda kalibrasi.
13. Ditutup dengan karet penutup, lakukan sterilisasi akhir dengan otoklaf dengan
suhu 121°C selama
15 menit.
14. Dilakukan evaluasi kejernihan, pH, dan keseragaman
volume.
15. Diberi etiket, brosur, lalu dikemas dan diserahkan.
XI.
HASIL EVALUASI
|
Jenis Evaluasi
|
Hasil Evaluasi
|
|
|
Uji Fisika
|
-
Uji
Kejernihan
|
Jernih
|
|
-
Uji
Keseragaman Volume
|
Seragam
|
|
|
Uji Kimia
|
-
Uji pH
|
4,5
|
|
Uji Biologi
|
-
Uji
Sterilitas
|
-
Uji Sterilitas (FI ed. IV hal 861)
Menggunakan teknik penyaringan membran
:
Bersihkan permukaan luar botol, tutup
botol dengan bahan dekontaminasi yang sesuai, ambil isi secara aseptik.
Pindahkan secara aseptik seluruh isi
tidak kurang dari 10 wadah melalui tiap penyaring dari 2 rakitan penyaring.
Lewatkan segera tiap spesimen melalui penyaring dengan bantuan pompa
vakum/tekanan.
Secara aseptik, pindahkan membran dari
alat pemegang, potong menjadi setengah bagian (jika hanya menggunakan satu).
Celupkan membran atau setengah bagian membran ke dalam 100 ml media inkubasi
selama tidak kurang dari 7 hari.
Lakukan penafsiran hasil uji
sterilitas.
|
XII.
PEMBAHASAN
1. Sebelum membuat sediaan Papaverin HCl dalam vial,
seluruh alat yang digunakan disterilkan terlebih dahulu untuk membebaskan
alat-alat dari kontaminasi mikroorganisme.
2. Pelarut yang digunakan yaitu aqua pro injeksi
bukan aquadest biasa karena air yang digunakan dalam larutan parenteral dan
irigasi harus bebas dari pirogen.
3. Dari hasil evaluasi kejernihan, didapatkan larutan
yang jernih hasil ini didapat karena zat aktif (Papaverin HCl) dapat larut
dalam air sehingga tidak menimbulkan kekeruhan pada sediaan yang telah jadi.
4. Evaluasi
keseragaman volume memberikan hasil semua sediaan memiliki volume yang seragam,
keseragaman volume ini dapat tercapai karena sebelum larutan dimasukkan ke
dalam vial, terlebih dahulu dilakukan kalibrasi pada vial.
5. pH dari sediaan yaitu 4,5 nilai tersebut sedikit
berbeda dengan pH dari zat aktif yang digunakan, hal tersebut terjadi karena
bahan pengawet yang digunakan (benzetonium klorida) memiliki pH 4,8-5,5 yang
mempengaruhi pH larutan.
XIII.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan
Makanan; 1979.
2.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan
Makanan; 1995.
3.
Reynolds JEF, Martindale The
Extra Pharmacopeia. 28th edition. London: The Pharmaceutical Press;
1982.
4.
Trissels, Lawrence A. Handbook
on Injectable Drugs. 11th Edition.
5.
Diktat
Penuntun Praktikum Mikrobiologi II. Laboratorium Mikrobiologi. Fakultas Farmasi
Universitas Pancasila. Jakarta; 2014.
6.
Rowe, Raymond
C et.al. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Edition. London:
Pharmaceutical Press; 2009.
7.
Lachman,
Leon. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi III. UI-Press; 1994.
8.
Evory MC, Gerald K. Drug
Information. USA: American Society of Health-System Pharmacist; 2003.
No comments:
Post a Comment